PIMPINAN DEWAN
MEDIA SOSIAL


"Kembali Bertani" Oleh Sardi, SE (Ketua Komisi II DPRD Kab. Wonogiri)
Ditulis oleh : Admin Ganteng

22 Oktober 2018 - 13:59:04 WIB

Judul ini saya pilih karena menggelitik dan mengusik pikiran dan mengusik perasaan karena terkesan bertani merupakan jalan terakhir untuk mendapatkan pendapatan/hasil setelah pekerjaan usaha yang lain menemui kegagalan, beruntung atau tidak sesuai harapan. "Kembali Bertani" saya maksudkan adalah bagaimana berfikir dan menghitung ulang sektor pertanian, sebenarnya mengelola pertanian sawah mempunyai tolok ukur yang jelas dan mampu menempatkan margin keuntungan yang lebih dari sektor lain dalam berinvestasi atau mengembangkan usaha karena sektor pertanian setidak-tidaknya mampu menopang kebutuhan ekonomi masyarakat dan kalau ada kemauan untuk usaha pertanian dengan modal kredit bank dengan bunga 0,7% perbulan masih dapat profit yang menjanjikan.

Saya selaku pelaku langsung sebagai petani khususnya padi, mempunyai pedoman "PETANI BOLEH HITAM TAPI PENGHASILAN PETANI JANGANLAH GELAP". Marilah kita coba menghitungnya berdasarkan empiris (pengalaman sebagai petani), penghitungan ini saya memakai lahan minimalis seperti yang dimiliki oleh masyarakat dengan lahan sawah +/- 3000 m2 yang bukan miliknya sendiri.

1.   Biaya produksi

-  Sewa lahan semusim  Rp. 2.000.000,00

-  Traktor    Rp.  400.000,00

-  Benih    Rp.  200.000,00

-  Pupuk    Rp.  800.000,00

-  Obat-obatan      Rp.  300.000,00

-  Pengolahan lahan (perbaikan parit, dll)  Rp.  300.000,00

-  Penyiangan  Rp.  500.000,00

-  Upah pemotongan panen  Rp.  500.000,00

Total Rp.  5.000.000,00

2.  Produksi

-  Asumsi per m2 = 3.000 m2 x  0,8 kg= 2,4 ton

-  Harga per kg = 2,4 ton x Rp. 4.500,00  

Total Rp. 10.800.000,00

3.  Keuntungan bersih (Produksi - Biaya Produksi)  Rp.  5.800.000,00

Pada hitungan masa tanam 4 bulan maka bagi petani dengan lahan +/- 3.000 m2 , tiap bulan menghasilkan Rp. 1.450.000,00 atau jika secara ekonomi berbisnis maka dengan modal 100% akan mendapatkan keuntungan +/-55%, apakah hal seperti ini tidak menjadi daya tarik? Perlu diketahui bahwa pengelolaan ini dilaksanakan sebagian besar tenaga oleh pihak lain, tentu keuntungannya akan lebih besar kalau petani dapat mengelola sendiri karena akan terjadi efisiensi di biaya tenaga.

Memang saat ini brand seorang petani baru turun tetapi sebenarnya sangat prospektif kalau mau bekerja secara profesional dan penuh perhitungan, janganlah beranggapan kalau seorang petani itu merupakan pekerja rendahan, tetapi justru bagaimana dapat tercipta petani yang bermartabat dan berdaulat secara sosial dan ekonomi, Salam Petani.

JAJAK PENDAPAT
Bagaimana menurut anda website DPRD Kabupaten Wonogiri ?
Sangat Bagus
Bagus
Lumayan
Tidak Bagus

HASIL POLLING
PENGUMUMAN TERBARU
AGENDA DINAS TERBARU
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 172178 kali